Jumat, 21 Januari 2011

dokumentasi kegiatan 2009-2010

Porda Jawa Barat Ke XI,
Tema : Depok Percaya Diri
Lokasi : Kab. Bandung
Nama Kontingen
Abdul Rohman, Eka Dharma, Dodi Ahcmad, Nurman Rose, Hamzah, Supriatna, Triyo Prayoga
Shinta Devi, Maryanti, Rosi Melinda Sari, Indah Pratiwi, Fitri Fatah
manager Tim
Agus Passtiadi
Official
Dery Aditiya
Pelatih Buaya
Deden Sutrisna















Rabu, 09 Desember 2009

BASIC ANCHORING

Merupakan sistem pengamanan pada suatu kegiatan yang dianggap beresiko tinggi, seperti, Rock Climbing, Rappelling, Caving, Rescue dan sebagainya, dengan membuat suatu penambatan-penambatan (anchoring).
Namun ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam membuat suatu ancho, antara lain, benda yang akan dijadikan titik tumpuan, peralatan pendukungnya, beban yang akan didapat anchor tersebut, dan lainnya

TEKNIK TEKNIK PENAMBATAN
ANCHOR POINT

Adalah tehnik membuat tambatan (anchor) pada suatu benda. Baik memanafaatkan benda dari alam (natural anchoar) ataupun benda buatan (artificial anchor)

-Natural Anchor
Titiktambat yang dibuat dengan memanfaatkan langsung permukaan bebatuan atau benda-benda alam, seperti pada tonjolan batu, lubang pada tebing, pohon dan lainnya

--Artificial Anchor
Adalah titik tambat yang dibuat dengan peralatan modern, seperti choks, friends, cam, bolt, piton dan lainnya.

Anchor System
Berbagai bentuk penambatan (anchor) sangat pula tergantung dari benda yang dijadikan tumpuan, kekuatan benda tersebut, serta beban yang terhubung dengan achor tersebut.
sebaiknya jika kita membuat suatu anchor, kita juga membuat cadangannya (back-up), dengan begitu akan lebih menjamin terhadap fungsi anchor itu sendiri.
Beberapa sistem yang dipakai antara lain:
-Self Adjusting Belay
Anchor yang membentuk suatu sudut dengan dua titik kekuatan

-Triangle Power
Anchor yang dibentuk untuk mempunyai segitiga kekuatan

-On The Bight
Suatu anchor yang dibentuk berdasarkan jumlah loop pada suatu knot dengan sistem on the bight, seperti; Figure of Eight on The Bight atau Bowline On The Bight

-In Line Knot
Suatu anchor dibuat dengan membentuk simpul (knot) pada lintasan tali.

PENGENDALIAN MENTAL DALAM PANJAT TEBING

Sering perbedaan antara berhasil dan gagal tergantung pada pengendalian mental anda. Memperoleh dan menjaga kepala kamu bersamaan dapat lebih mudah jika anda menggunakan sebagian jiwa olahraga: 1, mengembangkan percaya diri; 2, menggunakan penerawangan mental , dan; 3, mengendalikan keraguan dan pikiran negatif. Teknik ini membantu anda mengembangkan dan pengendalian mental utama. Berjiwa olahraga merupakan ladang besar, menuntut tahunan untuk belajar. Dalam panjat, khususnya kompetisi panjat, lintasan/jalur didisain pada tingkat teratas dari kemampuan pemanjat. Informasi ini tidak all-inclusive dan bermaksud menyediakan peninjauan umum untuk memperoleh pengendalian mental meningkatkan peforma dan anda memberi semangat mempelajari pribadi lebih jauh.

Mengendalikan Mental menggunakan Daya Khayal dan Pikiran Positif
Kepercayaan diri mungkin aset terbesar dalam mengembangkan pengendalian mental melalui kamu reaksi tubuh terhadap tekanan. Percaya diri tidak terjadi dengan secara sederhana memutuskan untuk menjadi yakin - ini butuh kehatia-hatian dan perencanaan usaha. percaya diri bukan hanya perkara" membohongi" diri sendiri untuk percaya sesuatu yang salah. hanya berlawanan - ini didasari dengan mengenali diri sendiri dengan bijak. Percaya diri memberikan anda mengambil resiko tepat dan memanjat dengan kemampuan teratas anda.

Cara paling efektif membangun percaya diri dengan menyusun dasar performa yang dituju. Susun target yang dapat dicapai dan tujuan ukur keberhasilan dan pastikan anda mencapainya. kemudian susun keberhasilan baru dan capai mereka. melalui proses ini anda mempelajari kemampuan sendiri. dengan mengenali kemampuan sendiri anda menghindari kegagalan dan kembangkan keyakinan di sendiri. percaya akan sendiri menolong anda mengembangkan pengendalian mental.

Keberhasilan anda mencapai pengendalian mental harus dipertimbangkan dengan baik dalam kaitan dengan performa, bukan prestasi. contoh pencapain prestasi: "menang kompetisi" . Ini bukan penampilan baik berdasarkan keberhasilan. Contoh pencapain berdasarkan penampilan ; " menambah pull-up dengan 1 buah per minggu" ; atau, " menambah latihan daya tahan dengan 1 menit per sesi; atau " menambah waktu dead-hang (menggantung dengan jari) dengan 10 detik per minggu" , dan lain-lain. ada banyak segi mencapai pengendalian mental untuk meningkatkan performa memanjat anda. Kembangkan sebanyak-banyaknya dasar keberhasilan performa yang dapat anda atur. Rancang tujuan anda menjadi terjangkau sekitar seminggu atau dua minggu. ini akan memberi anda kecakapan, keyakinan, dan membantu anda mengembangkan ketajaman kemampuan diri sendiri.

Mengkhayal mental (dijelaskan di bawah) juga berguna untuk membangun kepercayaan dan pengendalian diri. ini berguna jika anda faktor rasa kurang percaya diri atau " permainan pikiran " bertentangan dengan kemampuan anda mencapai suatu keberhasilan. Akan tetapi, suatu peringatan. Memungkinkan menggunakan perbandingan untuk menyesuaikan tumbuhnya rasa percaya diri yang berlebihan. menggunakan perbandingan tanpa pertimbangan rasional anda kemampuan sebenarnya dapat mendorong kearah rasa percaya diri yang berlebihan dan kegagalan yang tak diduga, yang akan menyebabkan hilangnya keyakinan. Percaya diri yang berlebihan sama buruknya dengan kurang percaya diri - boleh jadi lebih buruk. Kepercayaan diri yang lebih tak membimbing kea rah pengendalian diri, ini salah baca kemampuan sendiri. Jika anda berkepercayaan diri yang berlebihan anda tak akan memberi upaya pemanjatan itu 100% dan mungkin membawa anda mencoba sesuatu yang anda tidak mampu anda lakukan. Ini dapat mendorong kearah kegagalan tak terduga, yang dapat membasmi kepercayaan diri anda.

10 tips memanjat dengan aman

Memanjat adalah berbahaya. Anda perlu melakukan segalanya yang anda bisa untuk
memperkecil efek gravitasi dan jatuh. Melebihkan adalah kuncinya. Selalu back-up setiap potong peralatan penting dengan peralatan lainnya dan gunakan lebih dari satu anchor/tambatan pada titik belay dan rappel. Nyawa anda bergantung padanya. Pemanjat pemula paling mudah celaka. Selalu gunakan pandangan; hargai bahaya memanjat; tidak memanjat dengan kepala (selalu berpikir); cari pembimbing berpengalaman atau ambil mempelajari bagaimana cara memanjat yang aman. Ingat bahwa paling banyak kecelakaan terjadi karena kesalahan pemanjat.

Gunakan 10 tips berikut untuk menjaga anda aman bila melakukan pemanjatan tebing.

1. Selalu Periksa Harness.
Setelah anda memasang harness; buat simpul, selalu cek ikatan kedua pemanjat dan belayer telah mempunyai back-up

2. Selalu periksa Simpul.
Sebelum mulai memanjat, selalu cek sekali lagi bahwa leader telah terhubung (biasanya figure-8 follow-through) dan diikat dengan benar dan telah diamankan dengan simpul back-up. Juga cek bahwa tali telah melalui sabuk pinggang (waist belt) dan sabuk paha (leg loop)

3. Selalu gunakan helm
Sebuah helm panjat merupakan hal penting jika anda ingin panjang umur dan sehat. Selalu gunkan satu bila memanjat atau mem-belay. Helm melindungi kepala dari batuan yang jatuh dan dari benturan

4. Selalu periksa tali dan alat belaying
Sebelum anda memimpin (leading) pada sebuah jalur, selalu cek sekali lagi bahwa jalur tali telah dipasang semestinya pada alat belay (khususnya jika ini grigri). Juga, selalu pastikan tali dan alat belay terkait dengan karabiner kunci ke harness belayer

5. Selalu menggunakan tali yang standar
Pastikan tali panjat anda cukup panjang mencapai anchor dan lebih rendah pada jalan jalur sport atau mencapai titik henti pada tebing pada jalur multi-pitch. bila sport climbing, jika anda mempunyai keraguan bahwa tali terlalu pendek, selalu ikat dengan stopper knot pada bagian akhir untuk menghindari tali melewati alat belay atau rappel

6. Selalu memperhatikan
Jika anda melakukan belaying, selalu memperhatikan pemimpin (leader) di atas. Dialah yang mengambil resiko jatuh. tidak mengobroli dengan pemanjat lain di dasar, berbicara terus-menerus melalu telepon seluler, atau menertibkan anjing atau anak-anak. Jangan pernah berhenti mem-belay leader kecuali anda telah memastikan bahwa ia telah terikat dan aman dan dia telah mengatakan itu pada anda

7. Selalu membawa cukup peralatan bahkan lebih
Sebelum anda memanjat sebuah jalur, perhatikan dari dasar dan tentukan apa yang perlu dibawa. Anda tahu mana yang terbaik. Jangan bergantung pada buku pedoman yang mengatakan apa yang anda perlukan. Jika itu adalah suatu jalur sport, uji secara visual berapa banyak quickdraw yang diperlukan untuk bolt-hanger. Jika ragu – selalu lebihkan ini dari apa yang anda pikir dibutuhkan

8. Selalu memanjat dengan tali di atas paha
Bila anda memimpin (leading), selalu pastikan posisi tali selalu diatas paha daripada diantara paha atau salah satunya. jika anda jatuh pada posisi ini, anda akan terputar; terbalik; kepala anda terbentur. Pakai helm untuk pengamanan

9. Selalu mencantolkan tali dengan semestinya
Pastikan anda selalu mencantolkan tali melalui karabiner quickdraw dengan tepat. hindari mencantolkan lewat belakang (backclipping), dimana tali diarahkan ke depan kembali daripada belakang ke depan pada carabiner. Pastikan gate karabiner berlawanan arah dengan pergerakan anda, jika tidak tali dapat lepas dari karabiner. Selalu gunakan karabiner-kunci di penempatan penting

10. Selalu gunakan tambatan yang aman
Pada puncak dari sebuah pitch atau jalur, selalu gunakan sedikitnya dua anchor. Tiga lebih baik. Kelebihan menjaga anda tetap. Pada jalur sport-climbing , selalu gunakan karabiner-kunci jika anda turun ke bawah dengan top-rope anchor

Kamis, 03 September 2009

PENGATURAN MAKAN PADA ATLET

Oleh : DR. dr. Zainal Abidin, DSM Internist, SPGK.

Seorang atlet setiap hari harus memperhatikan kondisi fisiknya agar dapat tampil secara prima dalam setiap pertandingan. Dalam proses latihan dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi dalam bidang olahraga maka pengaturan makan yang optimal harus mendapat perhatian dari setiap orang yang terlibat.
Pada periode persiapan di pemusatan latihan, periode pertandingan maupun periode pemulihan makan pada atlet harus diatur sedemikian rupa sehingga mampu meningkatkan kondisi fisik.

Seorang atlet yang mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang secara terencana akan berada pada status gizi baik dan mampu mempertahankan kondisi fisik secara prima. Makanan yang memenuhi gizi seimbang memegang peranan penting untuk atlet yang ingin berprestasi maksimal dalam suatu pertandingan. Bahkan dengan kombinasi yang baik dari bakat atlet serta teknik latihan dan pelatih terbaik, makanan yang tidak memenuhi syarat dan gizi tidak seimbang tidak mungkin berprestasi secara maksimal.

Makanan dengan gizi seimbang adalah makanan yang mengandung jumlah kalori dengan proporsi sebagai berikut:
60 – 70% karbohidrat;
10 – 15% protein;
20 – 25% lemak, serta; cukup vitamin, mineral dan air.

Dalam pembinaan prestasi dikenal periodisasi penyelengggaraan latihan sebagai berikut:
1. Periode persiapan pertandingan;
2. Periode pertandingan;
3. Periode pemulihan/transisi.

1. Periode Persiapan Pertandingan

Sebelum mulai dengan latihan, atlet harus berada dalam kondisi fisik yang baik. Oleh karena itu atlet dikembangkan fisiknya agar siap menghadapi latihan berat dan intensif. Pada periode persiapan, program-program latihan disusun dalam jadwal latihan harian sesuai dengan “peak” [puncak prestasi] yang diharapkan.

Pada awalnya dikenal tahap persiapan umum dimana dilakukan perbaikan keadaan umum kesehatan, status gizi dan semua unsur kesegaran jasmani.
Setelah tahap persiapan umum dilanjutkan dengan tahap persiapan khusus. Pada tahap ini kondisi fisik tetap dipertahankan, latihan fisik diarahkan pada pengembangan fisik disesuaikan dengan cabang olahraga yang diikuti. Pada periode ini penyediaan makanan harus benar-benar dapat memenuhi kuantitas dan kualitas gizi yang baik yaitu jumlah energi dan komposisi gizi seimbang, karena pada masa ini status gizi dan kesehatan atlet harus berada dalam kondisi yang baik.

Atlet dikondisikan pada pola makan yang baik. Waktu makan utama dan makan selingan dibuat jadwal yang sesuai dengan jadwal latihan agar tidak mengganggu latihan. Jadwal waktu makan yang sudah disepakati harus ditaati oleh semua pihak yang terlibat. Pola makan 5-6 kali sehari dengan 3 kali waktu makan utama disertai selingan bisa digunakan oleh atlet selama di pelatnas.

2. Periode Pertandingan

Memasuki tahap pertandingan baik kondisi fisik dan mental sudah mencapai kondisi yang sebaik-baiknya. Pada masa pertandingan, seluruh aktifitas atlet difokuskan pada kegiatan pertandingan yang tahapnya dapat berlangsung satu hari sampai kegiatan beberapa hari berturut-turut.
Pada umumnya aktifitas atlet pada saat pertandingan dapat dikelompokkan sebagai berikut:

Jadwal Pertandingan

Atlet mengikuti pertandingan dengan jadwal pertandingan selesai satu hari, misalnya angkat berat, atau jadwal pertandingan selesai beberapa hari dengan jarak waktu yang berbeda-beda, misalnya panahan, bulutangkis dan lain-lain.

Keikutsertaan Atlet dalam Pertandingan

Atlet mengikuti pertandingan satu nomor pertandingan, misalnya binaraga atau beberapa nomor pertandingan, misalnya atletik, renang dan lain-lain.

Waktu Pertandingan
Atlet mengikuti Pertandingan dengan waktu pertandingan mulai dari 3 menit, misalnya angkat besi, sampai dengan waktu pertandingan 2 hari, misalnya balap sepeda.

Lama Pertandingan
Lamanya waktu pertandingan mulai dari pagi hari sampai dengan siang hari, misalnya marathon atau pertandingan yang membutuhkan waktu relatif lama,

misalnya sepak bola.
• Kiat Dalam Penyediaan Makanan Pada Saat Bertanding
Makanan yang dikonsumsi selain memenuhi syarat gizi, sebaiknya sudah dikenal atlet. Makanan harus mempunyai nilai psikologis yang tinggi sehingga terciptalah semboyan “eat to win”. Atlet sebaiknya memiliki makanan yang sudah familier dan mudah dicerna.

Tujuan utama pemberian makanan pada atlet sebelum pertandingan adalah untuk mempersiapkan atlet agar mendapatkan energi yang adequat dan hidrasi yang optimal. Puasa sebelum pertandingan tidak diperbolehkan karena secara fisiologis tidak masuk akal oleh karena makanan dibutuhkan untuk mengganti glikogen.

Pemberian makanan diatur sedemikian rupa sehinggga sebelum pertandingan dimulai proses pencernaan makanan sudah selesai. Hal ini penting oleh karena pada saat pertandingan aliran darah terkonsentrasi menuju ke otot untuk menyalurkan zat gizi dan oksigen yang dibutuhkan pada saat otot berkontraksi. Atlet sebaiknya mengkonsumsi makanan lengkap yang terakhir kira-kira 3 – 4 jam sebelum bertanding. Tenggang waktu ini tidak boleh sampai menimbulkan penurunan kadar gula darah atau menimbulkan rasa lapar sawaktu pertandingan. Namun waktu makan yang terakhir ini juga harus disesuaikan dengan kebiasaan makan atlet.

Makanan tidak boleh merangsang atau menyebabkan masalah yang tidak baik pada saluran pencernaan. Makanan harus lebih banyak mengandung karbohidrat kompleks, rendah lemak dan protein, cukup vitamin dan mineral serta cukup air. Hindari makanan yang banyak mengandung lemak dan protein karena makanan tersebut lebih lama dicerna sehingga kedua zat ini, lemak dan protein, tidak memberi kontribusi sebagai cadangan glikogen otot dan hati yang dibutuhkan saat pertandingan.

Kurang lebih satu jam menjelang pertandingan, atlet harus menghindari minuman yang banyak mengandung gula [manis sekali]. Pemberian satu gelas [200 cc] air putih yang ditambah satu sendok teh [5 gr] gula diperbolehkan oleh karena konsentrasi minuman tersebut tidak melebihi 2,5%.pemberian minuman manis yang melebihi konsentrasi gula 2,5% dapat menimbulkan peningkatan gula darah yang akan merangsang produksi hormon insulin.

Peningakatan hormon insulin ini dpat menyebabkan terjadinya hipoglikemi [“reactive hypoglycemia”]. Keadaan ini dapat terjadi pada saat atlet sedang bertanding dengan gejala-gejala pusing, mual dan muntah sampai kolaps.
Minum air sebanyak 150 – 250 cc, pada waktu 30 – 60 menit sebelum pertandingan dan saat istirahat diantara pertandingan sangat dianjurkan.
Minuman yang mengandung kalori, vitamin, mineral dan elektrolit yang terlarut didalamnya bermanfaat untuk menghindari terjadinya dehidrasi serta dapat mengganti zat gizi yang terpakai.

Pemberian cairan selama pertandingan sangat penting untuk mempertahankan status dehidrasi atau menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit. Atlet setiap kali harus mengambil kesempatan minum minuman yang telah tersedia. Kesempatan minum jangan menunggu sampai terjadi rasa haus oleh karena pada waktu terasa haus ini sudah menunjukkan adanya dehidrasi awal.

Rasa haus bukan indikator yang efektif untuk menilai kebutuhan air atlet selama latihan dan pertandingan. Atlet harus ditekankan kesadarannya akan kebutuhan air yang banyak dalam setiap kesempatan. Minum sebaiknya dilakukan secara teratur setiap 10 – 15 menit sebanyak 150 – 250 cc air dingin 10o C. Pada olahraga endurans sangat penting diperhatikan adalah mengganti keringat yang terbuang akan semakin banyak apabila pertandingan olahraga endurans dilaksanakan pada lingkungan sangat panas.

Pada olahraga endurance yang sangat lama [lebih dari 2 jam] pemberian cairan harus mengandung karbohidrat dan elektrolit. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya hipoglikemia dan hiponatremia. Pemberian karbohidrat pada saat bertanding dengan cara suplemen makanan bertujuan untuk mencegah terjadinya hipoglikemi, mencegah kelelahan dan untuk mempertahankan daya kerja otot. Pemberian suplemen makanan karbohidrat bisa berupa cairan ataupun padat tergantung kesukaan atlet dan jenis olahraganya. Makanan padat yang tinggi karbohidrat kompleks dan rendah serat, misalnya buah pisang dapat diberikan pada atlet.

Segera setelah bertanding, pemberian makanan dan minuman ditujukan terutama untuk memulihkan cadangan glikogen serta mengganti cairan, vitamin, mineral dan elektrolit yang terpakai selama pertandingan. Pemberian makanan setelah pertandingan harus memperhatikan keadaan atlet. Sering terjadi bahwa nafsu makan dari sebagian besar atlet berkurang. Untuk itu segera setelah pertandingan, atlet harus minum air dingin [suhu 10o C] sebanyak 1 – 2 gelas. Kemudian atlet dianjurkan untuk minum berupa cairan yang mengandung karbohidrat, vitamin, mineral dan elektrolit secara kontinyu dengan intrerval waktu tertentu sampai terjadi hidrasi.

Pada keadaan ini dapat diberikan minuman berupa jus buah-buahan dan sayuran. Setelah keletihan dari atlet tersebut berkurang, kira-kira 4 jam setelah pertandingan, dapat diberikan secara berangsur-angsur makanan lengkap biasa seperti sebelum pertandingan dilaksanakan. Pola hidangan yang dapat dikonsumsi atlet sesaat menjelang pertandingan adalah sebagai berikut:
• 3 – 4 jam sebelum bertanding, makanan lengkap biasa, misalnya nasi dengan lauk-pauk.
• 2 – 3 jam sebelum bertanding sebaiknya dalam bentuk makanan kecil, misalnya roti [kurang dari 500 kalori].
• 1 – 2 jam sebelum bertanding, makanan cair berupa jus buah diberikan kepada atlet.
• 30 – 60 menit sebelum bertanding, atlet hanya boleh diberi minuman cair saja.

3. Periode Pemulihan Atlet

Pada periode ini atlet harus tetap mempersiapkan kondisi fisik secara prima dengan latihan-latihan yang sesuai. Pengaturan makanan pada periode pemulihan ditujukan untuk mempertahanakan status gizi. Makanan harus tetap memenuhi gizi seimbang [“well balance diet”]. Jumlah masukan makanan harus disesuaikan dengan aktifitas sehari-hari.

Makanan yang dikonsumsi atlet harus tetap mengikuti pola makan seperti di pemusatan latihan. Pola makan 5 – 6 kali sehari dengan tiga kali waktu makan utama dan jadwal waktu makan yang tepat harus tetap dijalankan oleh atlet di tempatnya masing-masing. Pemantauan status gizi secara rutin harus tetap dilaksanakan terutama untuk mengontrol berat badan. Atlet harus melakukan penimbangan badan setiap hari untuk mengetahui keadaan berat badan.

Perubahan-perubahan biokimia yang terjadi selama latihan dan pertandingan bisa dilihat dan akan dijelaskan serta didiskusikan dalam presentasi. Semoga bermanfaat.

Sumber : koni.or.id